Awal tahun 2024, aku pertama kali baca buku Uketsu, yang berjudul Teka-Teki Rumah Aneh. Nggak ada ekspektasi apa-apa, tapi karena waktu itu sudah mulai kenal buku Jepang dari karya Keigo Higashino, aku akhirnya beli ini untuk bekal perjalanan di kereta, lah malah aku selesaikan malam harinya sebelum naik kereta! Se-candu itu memang misterinya. Sederhana sebenarnya, pembunuhan di ruang tertutup, tapi semua tersangka di rumah itu mustahil untuk melakukannya.. sampai kasusnya terpecahkan dan… (biiippp). *akan jadi spoiler bagi yang belum baca bukunya.
Dan di tahun 2026 ini Uketsu masih sukses bikin aku baca bukunya dalam 1 hari! Padahal dalam 2 bulan kemarin ini aku lagi reading slump and barely read anything – I think my mind is fried because I’m on my phone too much x.x.
Setelah Rumah, kali ini Gambar Aneh
Setelah itu, memang buku karya Uketsu ini cukup ramai dibicarakan di media sosial. Review-nya sudah seliweran sana-sini, dan aku lihat ada buku keduanya yang tentang gambar—tapi aku memang nggak buru-buru untuk beli juga, karena waktu itu terjemahan bahasa Indonesia terbitan GPU masih belum ada.
Nah, 2 bulan lalu aku akhirnya beli juga, tapi baru aku baca hari Kamis lalu. Sepintas aku sudah pernah lihat gambar-gambar aneh yang ada di buku, dari akun-akun review. “Gambarnya nggak kelihatan terlalu aneh menurutku. Dan digambar oleh siapa?” cuma itu pertanyaan awalku. Aku nggak pernah benar-benar membaca isi review, cuma biar surprise-nya nggak rusak aja sih. Tapi biasanya kalau ak baca pun, sudah lupa keesokan harinya hahaha.
Penemuan Sebuah Blog
Bab pertama buku ini dibuka dengan penemuah blog oleh sepasang junior dan senior di sebuah klub di sekolah. Blog itu isinya sangat sederhana, menurutku, sampai secara perlahan terkuak hal-hal ganjil dalam tulisannya. (On a side note: ini jadi pengingatku untuk kembali mengisi blogku ini yang telah sepi selama bulan Juli kemarin.)
Terus terang, di sini aku sudah kena hook, tapi menurutku kasusnya belum se-wow itu. Aku bisa merasakan build-up-nya perlahan dan makin intens. Sempat kecewa di bab pertama karena aku kira penyelesaiannya menggantung, dan bab ke-2 sudah menceritakan kasus yang berbeda. (This is the element of surprise I mentioned) Karena beberapa buku Jepang seperti Before the Coffee Gets Cold series itu isinya beberapa kisah yang berbeda dengan latar yang sama, aku kira ini juga kumpulan beberapa kasus yang melibatkan gambar saja. BUT THIS IS NOT. This is beyond that!
Aku nggak pengen going deeper into the case karena nggak mau spoiler, tapi bagaimana kebenaran kasusnya ini perlahan terkuak itu ditulis secara rapi banget that I did not see that coming. Kalau mau dibilang plot twist bukan juga, tapi menurutku seperti hal yang dilupakan saja, terus tiba-tiba muncul.
Kacau sih intinya hahaha. Very recommend this book!
Tentang Buku-buku Jepang yang lain
Buku ketiganya Uketsu, yaitu Strange Building, saat ini juga masih belum diterbitkan oleh GPU, tapi akan aku nantikan dengan sabar. Sejujurnya kadang aku itu juga penasaran sama buku terjemahan ke bahasa Inggris-nya sih. Tapi sejauh ini aku selalu puas aja baca terjemahan karya-karya Jepang ke Indonesia, ditambah juga lebih ramah di rekening ya hihihi.
Untuk penulis yang sama, aku bisa compare the before the coffee gets cold series, aku baca 2 buku pertama dalam Bahasa Indonesia, dan 2 buku selanjutnya dalam Bahasa Inggris. I feel like both books give me the same amount of emotional damage XD. Tapi karena sampulnya yang bahasa Inggris itu such an iconic one, jadi aku berencana beli yang Inggris untuk yang selanjutnya hahaha. Eh ditambah memang belum ada terjemahan yang bahasa Indonesianya sih.
Sekarang ini aku sedang baca bukunya Keigo Higashino yang Naoko. Premisnya aja sudah menarik banget, dan selalu ada kejutan juga dari buku-buku beliau. RIP Pak Keigo, terima kasih sudah memberikan karya-karya luar biasa untuk kami baca.
Sebuah pencerahan
Sudah merupakan rahasia umum kalau I am the type of person who works for an environmental organisation and cares about the environment. I take it casually, in my opinion, even though some of my friends actually are being pressured on a certain extend when hanging out with me.
But that’s not the point. The fact that I am reading and buying the physical books is already an internal conflict for myself. At some point I thought buying e-reader would be better – but I just couldn’t give up this one aspect of my life. And then….
A few months ago, I realised that the act of just buying a book and just reading it ONCE is the same as the ‘single-use’ concept. For instance, with the Strange Pictures, I read/use it just for a day. Such a waste, right? It’s been bugging me for months, and the idea is to make my books accessible for lending. But the ‘N’ in me just kept me from executing this idea and just let it out. Ugh! Anyway, I put it out here for now, and we’ll see.


Leave a comment