Felicia – The One That Called a Hope

Photo by : Evalida Maria

Felicia Yanto – Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra.

Ia merupakan Ketua Redaksiku dalam keanggotaanku di Pers Mahasiswa Genta. Dan setelah beberapa percakapan singkat kami, akhirnya Feli mau juga mengirimkan karya tulisannya di blog dalam #AyoBerkarya. Hehehe. Memang sedikit beda kali ini, karena ce Feli aku beri role sebagai author, jadi ia bisa menuliskan sendiri artikelnya di dalam blogku. hehehe.


Hai, guys! Ini pertama kalinya aku menulis di blog kaya gini. Sebelumnya aku gak kepikiran sih, buat menulis sesuatu dan memasukannya di blog. Tapi ketika aku liat para blogger yang rajin nulis, aku mulai punya keinginan untuk mencoba menulis disini.

Tulisan pertamaku ini tentang sesuatu yang mungkin pernah kalian alami dalam hidup kalian. Semoga bisa jadi bahan renungan bagi para pembaca. Selamat membaca readers!

Photo by : Evalida Maria
Photo by : Evalida Maria

Pernahkah kau kehilangan warna pada duniamu?

Dulu dunia punya warna, namun kini sirna tak berbekas. Dulu dunia di mataku berwarna warni indah menari. Setiap harinya selalu ada warna yang buatku bersemangat. Warna itu lah yang terkadang membuatku senang tiap kubuka mata dan bangun di pagi hari. Cahaya matahari yang biasa menerangi, hangat menyentuh kulit, kini tak dapat kurasakan kembali kehangatannya. Aku tahu ini tidak benar, tidak akan benar, sampai aku tahu alasannya. Aku pun mencoba mencarinya, jawaban atas semua yang terjadi. Sampai aku berada pada suatu titik yang mana membuatku sadar bahwa,

terkadang matahari memang tertutup agar kita tahu dinginnya malam, supaya kita bersyukur akan adanya matahari. Terkadang memang perlu mencicipi rasa kehilangan untuk tahu arti sesungguhnya dari suatu hal.

Namun kini, matahariku telah hilang, lenyap tak berbekas. Dan sekarang aku kehilangan arah, tanpa matahari yang menyinari. Aku mencari sang matahari dengan tetap berjalan di kegelapan petang. Dalam kegelapan itulah, aku merasa tersesat seolah berjalan di lorong tanpa ujung. Meniti terus jalan yang seolah tanpa akhir, sampai ku temukan secercah cahaya, harapan yang kunanti selama ini. Tak sia-sia aku berjalan dalam gelap, karena harapan inilah jawabannya. Dengan sisa bayangan gelap di belakangku, aku menyongsong harapan yang berkilau cemerlang.

Di saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasakan bangkit, ketika harapan itu menyorot diriku yang baru keluar dari lorong gelap. Rasanya seperti terlahir baru. Senang, bahagia rasanya. Aku berhasil bertahan dari semua ini. Dan aku melanjutkan ke arah yang lebih baik. Ku sadari diriku berubah, perlahan-lahan. Hal itu terjadi berulang kali di setiap pagi, hingga membuatku menganggap itu hal yang biasa, berlangsung terus menerus melewati minggu dan bulan. Sampai aku sadar, bahwa aku telah berubah jauh sekali, dari pribadiku yang lama. Dari diriku yang lama. Sekarang aku masih bertanya, akan dibawa kemana perubahan ini? Dan sampai mana?

Kurasa jawabannya adalah, akan dibawa ke arah yang Tuhan mau. Kalau benar begitu, berarti ini tidak akan ada akhirnya. Karena hal itu akan sampai saat di mana mata kita tak pernah terbuka lagi dan nafas tak pernah dihembuskan kembali. Perubahan akan selalu ada, bahkan perubahan terhebat terjadi ketika kita berada pada titik terburuk dalam kehidupan. Percayalah pada perubahan dan berubahlah ke arah yang lebih baik.

Felicia Y, 10 Maret 2017.

You may also like