Tanpa Sosok Ibu

rosita-1

Rosita, gadis kecil berumur 2 tahun yang tumbuh tanpa sosok Ibu. Aku bertemu dengannya suatu siang, ketika hujan turun dengan derasnya, menahanku untuk meninggalkan warung tempat aku makan siang itu. Waktu itu ia memakai pakaian motif garis dengan warna putih, hijau dan kuning dan juga celana panjang merah. Matanya berbinar, keceriaan terpancar dari wajahnya sembari membawa beberapa mainan kecil dalam genggaman tangannya. Namun ia akan terdiam mendengar pertanyaan “Sudah ketemu dengan ibu?” Raut wajahnya tidak menunjukan ia ingin membahas hal itu. Ia hanya mengalihkan perhatiannya pada hal lain, daripada ia harus menjawab pertanyaan itu. Inilah yang membuat aku merasa bahwa anak sekecil ini sudah harus menerima kenyataan pahit bahwa ia ditinggalkan oleh ibunya.

Rosita dan ayahnya adalah perantau dari Medan, dan datang ke Surabaya dengan tujuan untuk mencari ibu Rosita. Entah sudah berapa lama ibunya meninggalkan Rosita bersama dengan ayahnya, namun ini sudah cukup membuat aku bertanya “Hal apakah yang sampai membuat ibunya pergi meninggalkan anak perempuan satu-satunya, bersama dengan ayahnya yang mengalami gangguan mental?” Jujur saja, aku tidak bisa semena-mena menilai bahwa ibunya adalah orang yang tidak bertanggung jawab dsb. Aku hanya sedih dengan kondisi Rosita, ayahnya – berdasarkan yang aku tau berjalan dengan berteriak dan mengucapkan kata-kata makian yang tidak jelas diucapkan kepada siapa. Jelas sekali bahwa ayahnya menderita depresi, dan bertingkah laku berbeda. Tak hanya itu, perkataannya pun tentu saja bukan kata-kata yang baik, yang patut didengar oleh anak berusia 2 tahun.

Hal ini dimulai ketika aku duduk makan di sebuah warung di Jalan Semarang seusai aku mencari buku. Hujan turun dan aku memutuskan akan menunggu disana hingga reda. Aku duduk dan membaca buku hingga ibu pemilik warung mengajak aku berbincang mengenai Rosita. Dan detik itulah aku mulai memperhatikan ia, dan ayahnya yang duduk di ujung warung, menatap kosong tak berbicara didepan segelas kopi hitam. Rosita asik bermain dengan ibu pemilik warung dengan ceria. Begitu mirisnya keadaan yang ia alami, hingga ibu pemilik warung rupanya memiliki niatan untuk mengadopsi Rosita. Hidup dengan ayahnya, tidak dapat memberikan jaminan apapun bagi masa depan Rosita. “Tidak. Maunya sama ayah,” jawab Rosita dengan tegas sembari menggelengkan kepala ketika ia ditanya apakah ia mau tinggal saja di sini (di warung).

….

Rupanya ia lelah, kini ia duduk dipangkuan ayahnya, diam, tak bergeming. Hujan juga mulai reda, matahari menampakkan cahayanya. Dan Rosita masih diam, sembari menggengam boneka ia melambaikan tangan, membalas lambaian tangan tanda pamitku.

….


Sebuah perjumpaan singkat karena derasnya hujan memberikan aku banyak pelajaran.

Betapa kerasnya kenyataan hidup yang dialami seorang gadis kecil yang ditinggalkan ibunya tidak membuatnya kehilangan senyuman dan keceriaan. Aku tidak bisa menebak memang apa yang ia rasakan, apakah ia merindukan ibunya? apakah ia marah kepada ibunya? atau apakah jauh dari dalam dirinya masih ada harapan bahwa ibunya akan kembali? – aku tidak tahu.

Yah, mungkin saja dunia memang tidak terlalu kejam bagi mereka yang memang mampu menghadapinya dengan senyuman terlukis di wajah. Bagiku, Rosita adalah sosok gadis kecil yang kuat, yang mampu menghadapi kejamnya dunia dengan kepolosan dan senyumannya itu. Sebegitu tidak adilkah dunia? – yah kurasa, ini hanyalah bagian kecil dari kejamnya dunia ini.

Yang terpenting adalah mengingat untuk tidak menggantungkan kebahagianmu kepada orang lain. Kita bisa menciptakan kedamaian dan kebahagiaan dari dalam diri sendiri, baru dengan begitu dapat memberi kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita. Janganlah kita mengeluh dengan tanggung jawab-tanggung jawab yang biasa kita sebut beban itu, karena diluar sana banyak mereka yang benar-benar merasakan beban yang sesungguhnya.

Tak hanya itu, aku juga tersentuh dengan niatan ibu pemilik warung untuk mengadopsi Rosita. Seberapa banyak orang yang mau direpotkan dengan kehadiran anak kecil? Biaya sekolah juga telah menanti, namun ia berharap Rosita bisa tinggal di sana, dan ia rawat sebagai anak, sehingga tak perlu hidup dengan ayahnya.

Aku belajar, keterbatasan tidak membuat seseorang berhenti untuk berbuat kebaikan bagi orang lain. Dan sekali lagi, dunia memang seolah kejam dan tidak adil. Akan tetapi, manusia diciptakan dan ada untuk saling mengasihi dan menolong, ditengah carut-marutnya dunia kini. Maka itu, jangan menunggu waktu untuk menjadi baik. Seperti yang biasanya kukatakan kepada diriku sendiri, “waktu itu tidak untuk kita tunggu, tapi waktu itu dibuat dan disediakan,”

Berbuat baik tidak harus menunggu waktu yang tepat, kita dapat memulainya kapan pun juga!


Baca juga : Kindness

You may also like

2 Comments

  1. Menurutku ceritanya terlalu pendek jadi kurang menggali emosi pembaca tapi maknanya mengena. 👍