Menulis itu Berbagi Cerita

1501865016030

Seperti aku singgung dalam post sebelumnya, //Kenapa Aku Suka Menulis?// salah satu alasannya adalah karena menulis bagiku bisa menjadi sarana untuk bercerita alias curhat. Mungkin sudah dari lahir, bahwa setiap manusia suka bercerita, dan didengar orang lain. Dan yah, bercerita tidak berarti harus berbicara bukan?

Mungkin contoh yang aku pilih ini sudah super lawas, tapi yah.. gapapa lah hehehe..

Jadi, seperti yang juga kalian dapat baca dalam artikel sebelum ini mengenai Asian Youth Day, aku terlibat sebagai panitia dalam Days in the Diocese (DID) Surabaya sebagai Liaison Officer (LO). Nah, aku juga membagikan sebuah tulisan untuk dimuat dalam Tabloid Fides et Actio, yang dikelola oleh Yayasan Kasih Bangsa Surabaya terkait pengalamanku selama DID Surabaya. Bukan sebuah artikel liputan kali ini, hehehe ini murni curahan hati *eh. Yang kepo, bisa langsung cek di Days in Diocese Surabaya Asian Youth Day 2017 as Liaison Officer.

Berkaitan dengan AYD juga, aku membuat sebuah artikel liputan liputan lagi ver mengenai closing ceremony dan juga mengenai panitia DID Surabaya sendirii hehehe.. Dimuat dalam Harian Surya edisi 14 Agustus 2017 lalu, bisa baca di :  Asian Youth Day : Berbeda itu Indah

Semoga saja cerita yang aku bagikan dalam tulisan-tulisanku memberikan inspirasi, dan semangat buat kita semua. Baik semangat untuk menulis, berbagi, maupun melakukan perbuatan-perbuatan baik. Hehehe.. Terbukti kan, menulis dapat dimulai dari hal yang kita alami, kegiatan sehari-hari juga bisa menjadi bahan untuk tulisan yang akan kita buat. Buku harian adalah salah satu bentuk latihan untuk memulai menulis, bagi kalian yang berkeinginan mengabadikan momen-momen kalian dalam tulisan. Karena menulis juga mengabadikan! Gak cuma foto ajah hehehe..


Link terkait : Yayasan Kasih Bangsa SurabayaHarian SuryaDays in Diocese Surabaya Asian Youth Day 2017 as Liaison OfficerAsian Youth Day : Berbeda itu Indah.

You may also like