Marsetio Hariadi – Jangan Menangis, Adikku

jangan menangis, adikku

Marsetio Hariadi – Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra

Seorang seniorku dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Rumpun Padi Universitas Kristen Petra. Seorang seniman yang bahkan corat-coret aja jadi berestetika (nda kayak aku berusaha nulis bagus aja jadinya tetap menyedihkan). Nggak hanya #nulising nya yang keren-keren, tapi juga barisan kata-kata yang selalu berhasil ia tuliskan selalu mampu menyampaikan pesan bagi para pembacanya.. Begitu juga yang satu ini.


JANGAN MENANGIS, ADIKKU

adikku,
aku pernah menceritakan padamu
tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya
tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya
bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya
dan kau mengaguminya

aku pernah menceritakan padamu
tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar
tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan
dan kau terus mempertanyakannya

ingatkah kau adikku,
aku pernah menceritakan padamu
tentang buku-buku
yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa
yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian
yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi
yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa
bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa
dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan
aku pernah menceritakan padamu
tujuan hidup itu sederhana
kebaikan, keadilan, dan kebenaran
dan kau bilang ketiganya sulit tercapai di masa ini
tapi kau mempercayainya

aku pernah menceritakan padamu
tentang penjahat-penjahat negara yang tidur nyenyak
tentang penegak hukum yang sama sekali tidak bisa diharapkan
tentang istri dan anak-anak korban hak asasi manusia
setiap malam menanti pimpinan keluarganya pulang
setiap malam terus berusaha menumbuk rasa sakit dan dendam menjadi sebuah keikhlasan
mereka rindu beribadah bersama
kau menulis puisi
dan mendoakannya

oh ya adikku,
aku pernah menceritakan padamu
tentang cinta itu adalah keteguhan
dari dua insan yang berjalan bersama menarik pedati penuh kekurangan
bahwa jarak adalah bagian dari perjalanan
perpisahan adalah bagian dari kehidupan
dan kau membencinya

aku pernah menyanyikanmu sebuah lagu saat kau sedang bersedih
lagu itu membuatmu semakin bersedih
kau tahu aku tidak sengaja
dan kau ikut menyanyikannya sambil berkaca-kaca

aku pernah memperhatikanmu
sedang memikirkan banyak hal
kau selipkan rambut ke belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi
kau dengarkan baik-baik cerita dan air mata kawan-kawan
diammu membelai rambut-rambut mereka
senyummu memeluk hangat tubuh-tubuh mereka
layaknya seorang ibu
dan aku menyukainya

adikku,
dalam senyum lembutmu aku temukan
kekuatan dan keindahan rasa kasih sayang
dalam tatapan sayumu aku nikmati
keyakinan yang tak tergoyahkan
dalam tangis kecilmu aku melihat
begitu besar ketegaran

ah… jangan menangis, adikku
sudah lama kita bersama
dan bertahan dari terpaan ombak kerinduan
ah… kita tahu, adikku
serpihan-serpihan ombak yang tajam dan berkilau itu
selalu kita genggam erat
dan kita lepas kembali menjadi sebuah doa

aku di belakangmu, menjagamu dalam pandangku

***

MH

Pacet, Mojokerto

Untuk Adik-adikku Teater Rumpad

19 November 2016


*sesuai permintaan

Seperti biasa, kalau aku baca/dengar hasil tulisan kak yok (iya, namanya Marsetio Hariadi. Aku memanggilnya begitu) itu berasa seperti membaca sebuah cerita yang plot twist. Seolah diawal itu pembaca diajak jalan pelan-pelan, santai tapi akhirnya ngena banget. Hehehe. Membaca tulisan ini aku juga semakin yakin bahwa berapa banyak kita membaca, dan apa sumber bacaan kita menentukan hasli tulisan kita. Aku suka dengan diksi-diksi yang dipilih, dengan alur dan cara menyampaikan maksud tertentu. Terasa puitis buatku namun tidak berat untuk dibaca.

Dalam tulisan ini aku juga melihat begitu banyak kenyataan yang dipaparkan, yang kemudian membuatku sadar. Rupanya banyak yang kulewatkan dalam hidupku ini. Banyak hal-hal sederhana yang rupanya meningatkan kembali aku, dan bagaimana aku menjalani hidup.. Lucu kurasa ketika aku melaluinya. Tanpa memperhatikan itu semua. Banyak yang terlewat.

Hal ini digambarkan seolah bahwa si penulis adalah kehidupan yang berjalan, bersama kita, si adik. Hanya saja diri kita tidak peduli dengan kisah-kisah dan kenyataan-kenyataan yang ada bersama kita. Kita mungkin lupa, atau bahkan sengaja mengabaikan kisah-kisah, kenyataan-kenyataan yang pernah kita dengar itu. Tapi si penulis mencoba kembali mengingatkannya kita, si adik, untuk tidak perlu takut. Untuk tidak perlu menangisi kenyataan-kenyataan itu, dan baiklah ini menjadi sebuah harapan di dalam doa-doa kita.

#AyoBerkarya #BerkaryaDenganHati 

You may also like

2 Comments