Kehabisan Kata

story 75

Sebagian dari kita mulai kehabisan kata-kata, untuk mengungkap rasa dan mengurai kisah..

FYI : Minggu Ujian Akhir Semester dimulai dan Vero berusaha mencari kesibukan lain supaya tidak belajar, dan berakhir di sini, iya. Menulis.

Jadii, sebenarnya ini ide menulis yang cukup singkat ini, kudapatkan ketika aku berusaha menjauhkan diriku dari kenyataan bahwa aku harus belajar. Karena besok UAS, BESOKKKKK. Singkat cerita, aku melakukan pelarian dengan melakukan kegiatan tidak penting (baca : scroll dan lihat story di instagram). Yah! dari sinilah aku mendapatkan inspirasi (cieilah) untuk membahas hal ini.

Instagram Story

InstaStory atau Instagram Story atau apalah itu kalian menyebutnya, kini menjadi bagian dari kebutuhan primer para generasi milenial. Bukan hanya mengabadikan momen, tapi juga langsung membagikannya, yang tentu saja mengharapkan pkan agar dilihat oleh para followers. Semakin banyak yang melihat, semakin baik? –Kurasa. Atau.. aku tidak tahu apa yang diharapkan dengan membagikan video-video yang kadang hanya berkata “Halo” atau umpatan-umpatan kekecewaan disertai keluhan akan kehidupan atau mungkin hanya ingin sedikit pamer akan apa yang dimiliki. Banyak sekali macamnya. Aku tak dapat menyebutkannya satu per satu.

Sudah hampir setahun belakangan ini kebiasaan nge-story menjadi tren yang tidak terpisahkan dari anak muda zaman sekarang, yah para generasi Z. Memang, sebelumnya telah didahului dengan adanya aplikasi dengan kegunaan serupa, Snapchat, yang kini pamornya kian menurun karena Instagram mensabotase *berlebihan ver* semua tools yang dimiliki Snapchat.

Dari kebiasaan, yang rupanya menjadi kebutuhan anak muda zaman sekarang ini. Aku berpikir, ketika hampir sebagian *bahkan mungkin semua* aktivitas kita mengabadiakannya dalam story di instagram.. Bukan, bukan soal kita melewatkan momen nyata yang sedang kita alami.. ini juga mengenai bagaimana kita akan membagikan kisah dan pengalaman yang telah kita alami? Ketika semua sudah terlihat dari story-story yang kita buat?

“Eh, aku lo kemarin habis dari Batu,”

“Iya, aku sudah lihat di story-mu kemarin,”

Oke..oke mungkin tidak seperti itu juga. Namun akan lebih baik ketika mengurangi kebiasaan nge-story dan melalui momen dengan nyata bukan? Dengan perhatian penuh pada kenyataan dan bukan pada layar gadget. Dan akan lebih baik pula, ketika kisah dan ungkapan perasaan kita simpan. Lalu kita bawa pulang untuk dibagikan dengan orang-orang yang kita kasihi. Karena aku rasa beberapa jepretan foto maupun video berdurasi 1 menit belum cukup menggantikan rangkaian kata-kata yang kita ucap menjadi sebuah kisah.

You may also like