Kampung Maspati: Bertahan di tengah Hingar Bingar kota Surabaya

maspati (1)

Tersembunyi di pusat kota, berjarak 500 meter dari Monumen Tugu Pahlawan, Maspati rupanya menyimpan banyak kisah historikal di dalamnya. Maspati menjadi saksi bisu perjalanan panjang zaman Keraton Mataram hingga kependudukan Belanda di Indonesia. Bangunan-bangunan rumah lawas (baca:kuno) tetap dipertahankan, sebagai upaya pelestarian sekaligus menjadi daya tarik wisatawan yang datang berkunjung.

Di sana, masih berdiri bangunan bekas Sekolah Ongko Loro, sekolah desa saat masa pendudukan Belanda. Sekolah Ongko Loro merupakan Sekolah Dasar (SD) pada zaman itu, di mana masa pendidikan hanya selama tiga tahun. Banyak pemimpin Indonesia yang juga memulai pendidikannya di sekolah ini, antara lain Adam Malik, Hamka dan Presiden Soeharto. Tak hanya itu, terdapat pula rumah bekas kediaman Raden Sumomiharjo (tokoh Keraton Surakarta), serta makam pasangan suami isteri Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh. Keduanya ialah kakek dan nenek dari Joko Berek, salah satu pahlawan besar di Surabaya.

Salah satu sudut unik di kampung Maspati

Terbukti, Maspati mampu membekali diri sebagai sebuah destinasi wisata. Perbaikan dan perkembangan terus dilakukan, bahkan dalam waktu satu tahun terakhir ini Maspati mulai mendapat banyak perhatian wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Salah satu contoh usaha perubahan yang dilakukan ialah berbagai gambar dan motif yang memenuhi jalan serta dinding di sepanjang jalanan Kampung Maspati. Itu adalah hasil usaha dan kerja keras seluruh warga untuk membuat kampung ini menjadi lebih menarik bagi para wisatawan. Memang, berbagai pilihan gambar mulai binatang, bunga, hingga permainan-permainan tradisional seperti engklik, akan menemani perjalanan di Kampung Lawas Maspati yang apik sebagai objek foto.

Semenjak diresmikan menjadi Kampung Wisata di Surabaya oleh Tri Rismaharini, Walikota Surabaya Januari 2016 lalu, Maspati sudah mendapat banyak kunjungan dari wisatawan asing. Beberapa negara yang warganya pernah datang berkunjung diantaranya, Thailand, Jepang, Singapura, dan India. Bahkan, kini Maspati sudah siap kedatangan pengunjung dalam jumlah besar, dengan paket-paket wisata yang ditawarkan.

Kampung Lawas Maspati juga merupakan sasaran Program Bina Lingkungan dan Kemitraan PT Pelindo III, yang menjadi salah satu pendukung utama dalam pemeliharaan Maspati sebagai destinasi wisata. Seperti misalnya, pengadaan biaya untuk pembangunan dan renovasi ruang pertemuan warga hingga perbaikan sarana kampung yang lain. Namun, perkembangan Maspati hingga saat ini bukan semata-mata bantuan dari PT Pelindo saja. Inisiatif dan kesadaran seluruh warga sekitar dibarengi dengan para pimpinan RW dan RT tentu menjadi alasan utama di balik kesuksesan Kampung Maspati.

Processed with VSCO with a6 preset

Maspati juga tetap melakukan perkembangan pada sektor lainnya, tidak hanya dari sisi penampilan dan sejarah saja. Produk-produk hasil Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kampung Lawas Maspati juga dipasarkan.  Beberapa produk seperti olahan belimbing wuluh menjadi makanan dan minuman, manisan dan minuman berbahan lidah buaya, olahan markisa serta asam jawa dalam kemasan botol menjadi unggulan Kampung Maspati. Selain itu, jika datang bersama rombongan, pengunjung juga dapat melihat langsung proses daur ulang sampah dan berbagai kerajinan lainnya yang diolah dalam rumah-rumah produksi.

Suasana hangat khas perkampungan dengan berbagai jajanan pasar di sepanjang jalan menjadi suguhan pasti kedatangan wisatawan di pagi hari. Gang-gang yang penuh warna dengan berbagai gambar dan motif akan selalu menemani perjalanan menyusuri Kampung Lawas Maspati. Jajanan tradisional seperti kembang gula, apem, pastel dapat juga ditemukan dalam perjalanan. Perjalanan dari satu gang ke gang yang lain menjanjikan suasana yang ramah bagi para pengunjungnya.

Menjadi tersembunyi dan tidak terlihat bukan menjadi halangan untuk berkarya. Sedikit demi sedikit Kampung Maspati berusaha bangkit di tengah modernisasi zaman yang semakin pesat. Sebagai pelopor ‘wisata kampung’ di Surabaya, sudah selayaknya Kampung Maspati, mendapatkan apresiasi dari kita, generasi penerus bangsa. Harus kita ingat, kampung juga merupakan bagian dari perkotaan yang tidak dapat dipisahkan, dan memeliharanya merupakan bagian dari tugas kita untuk melestarikan kebudayaan.


Tulisan ini ditujukan untuk ikut berpartisipasi dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Gramedia Store.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *