CAIS (Teater Institut) : Mimpi yang dibatasi

impian-1

Orangtua bertugas mendidik dan menuntun anak-anak mereka, namun tidak berhak untuk membatasi impian dan cita-cita. Jika memang pilihan anak-lah yang salah, orangtua berhak dan berkewajiban untuk mengarahkan ke yang benar. Namun terkadang, benar bagi orangtua bukan berarti benar bagi anak.

Seringkali orangtua memaksakan peran mereka sebagai ‘orangtua’ untuk mengatur masa depan anak-anak mereka. Aku juga tidak setuju bahwa orangtua memaksakan kehendak mereka kepada anaknya, terutama masa depan. Memberikan kebebasan perlu di lakukan, juga dengan batasan. Dan batasan-batasan inilah yang perlu diketahui orangtua.

Berikut adalah sebuah kisah dari pertunjukan teater yang aku tonton Jumat, 25 Agustus 2017 lalu oleh Teater Institut.

Dikisahkan, Uu merupakan siswi yang sedang menduduki tahun terakhirnya di bangku SMA. Ia begitu menyukai dongeng, dan kisah-kisah sejarah maka itu ia ingin melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan Sejarah. Pada awalnya, ibunya sangat mendukung keputusan Uu hingga ayah dan kedua saudaranya, Aa dan Ii mengetahui hal tesebut.

Sang ayah tidak menyetujui pilihan Uu karena dirasa jurusan sejarah tidak akan memberikan penghasilan yang besar kelak. Hal ini juga didukung dengan kedua kakaknya, Aa yang merupakan calon Sarjana Ekonomi dan Ii yang sedang menempuh pendidikan farmasi. Jika dibandingkan dengan kedua saudaranya, pilihan Uu di jurusan Sejarah dianggap remeh, tidak penting dan tidak menjanjikan kesejahteraan secara materi.

Mengetahui hal tersebut, Uu kemudian marah dan mengurung diri di kamarnya sampai ia diperbolehkan untuk memilih jurusan sejarah di bangku perkuliahan nantinya. Sang ayah, Aa dan Ii mulai menyusun rencana untuk membujuk Uu agar mengurungkan niatnya, namun usaha-usaha itu pun tidak digubris oleh Uu.

Beberapa waktu kemudian, ada juga Paman dan Tante mereka yang datang. Mereka berusaha membantu ayah Uu untuk membujuk Uu mengurungkan niatnya. Karena mereka juga sependapat bahwa jurusan sejarah tidak menjanjikan pendapatan yang besar. Berbagai perdebatan dilakukan dengan ibu Uu hingga akhirnya, mereka (Ayah, Om dan Tante) menggunakan cara persuasi yang melibatkan perasaan.

Dilemma.

Sang paman berusaha membuat kisah mengenai kisah perjalanan Uu dari sekarang hingga kelulusan dari bangku perkuliahan. Ia merangkai kisah yang kemudian berujung Uu bunuh diri karena ia depresi tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari bangku kuliah. Tidak ada kantor yang mau menerimanya. Sang Ibu yang kemudian termakan kisah buatan sang Paman pun mulai percaya dan ikut setuju bahwa Uu tidak boleh masuk jurusan Sejarah karena takut nantinya ia akan bunuh diri.

Sang Ibu yang telah terpengaruh, mencoba berbicara kepada Uu. Ibunya mencoba meyakinkan Uu dengan menceritakan sebuah dongeng, karena ia tau Uu menyukai dongeng. Ia mengisahkan seorang anak yang selalu menuruti perkataan orangtuanya. “Anak yang menurut perkataan ibunya akan hidup bahagia selamanya,” salah satu ucapan ibu mencoba meyakinkan Uu. Hingga akhirnya, dengan sendirinya Uu menuruti perkataan ibunya untuk mengurungkan niatnya.

Kisah diatas merupakan gambaran naskah ‘Cais’ yang dimainkan oleh Teater Institut Universitas Negeri Surabaya dalam pentas IKRAB Jumat (25/08/2017) lalu. Naskah Cais ini sendiri sebenarnya merupakan naskah adaptasi dari naskah asli berjudul “Aaiiuu” karya Arifin C. Noor. IKRAB yang juga diselenggarakan oleh Teater Institut sendiri ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan dengan tujuan ‘Berjumpa untuk Karya’.

Permainan naskah ditutup dengan adegan dimana sang ayah, paman dan tante dalam kondisi tangan terikat. Sedangkan Uu ditutup wajahnya dengan kain hitam dan sedang memegang balon dengan kedua kakanya disampinya. Sang ibu, dari sudut yang lainnya, memegang sebuah pistol yang kemudian ditembakkan ke arah balon yang dipegang oleh Uu.


Miris sekali ketika impian dan cita-cita seorang anak dibunuh oleh orangtua sendiri, terlebih sang ibu.

You may also like

2 Comments

  1. damn, so dark D: dan sedihnya sering banget terjadi. Aku yakin mayoritas anak sebenarnya mau pilih jurusan lain dari yang mereka pilih sekarang, cuma takut sama stigma sama penghasilan masa depan aja 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *