Bernaditta Rosalina – Cerpen (Partner Finder pt.3)

partner finder

Bernaditta Rosalina Riady – Diploma in Information Technology in Kaplan Higher Academy, Singapore.

“Cewek terhebat sepanjang masa yang akan tercatat di buku sejarah” – dustanya sambil tiduran daripada ngerjain tugas kuliah.

FYI : description di atas asli dari orangnya langsung.

Teman seperjuangan semasa SMA. Orang yang mengenalkan kepadaku dunia per-blog-an. Yang membantu aku membuat blog pertamaku (yang kemudian aku tinggalkan). Bromance-ku yang sekarang menjadi semakin feminim. Menyukai hal-hal tajam seperti landak dan kaktus. Selalu punya SEGUDANG ide cerita menarik dan selalu berhasil aku bikin ketawa ngakak kalo baca tulisan-tulisannya (realityimaginator.wordpress.com). Dan sekarang sedang menempuh pendidikan di bilang Informatika di negri singa. Dan inilah salah satu karya/mahakarya/ide kreatif/cerpen/cerbung buatan Rosa.

Selamat membaca!


PARTNER FINDER

Eits, baca dulu :

Partner Finder pt.1 dan Partner Finder pt.2

Nah, baru boleh baca yang ini. hehehe

PART 3

“Aku hanya bertanya, geez,” ujarku dengan suara paling jengkelku. Biru menoleh kepadaku, mengerutkan keningnya, “Dan aku cuma menjawab tadi.”
“Yeah,” balasku, “Dasar aneh.” Gumamku dengan suara terendahku. Biru mengeluarkan tawa kaget dan setengah mencemooh, “Sori, tapi kurasa si gadis yang menangis di kamar mandi dan memutuskan obat patah hatinya ada di Yunani lebih aneh daripada seorang lelaki yang menjaga privasinya.”

“Mungkin, kecuali fakta bahwa lelaki itu setuju pergi bersama cewek itu ke Yunani tapi tidak akan mengelilingi kota itu, tidak, ia hanya mengantarnya!” kataku, menaikkan suaraku. Seorang wanita dan pria di kursi serong kita menoleh ke kita.

Kita memandangi mereka balik dan mereka langsung menoleh ke depan lagi.

Aku menoleh kembali ke Biru, “Oh dan jangan lupa bahwa kita sama sekali tidak tahu satu sama lain, hingga aku harus memanggilmu dengan sebuah warna dan kamu memanggilku dengan nama panggilan dari mantanku yang brengsek.” Desisku.

“Kamu yang berkata aku boleh memanggilmu dengan itu,” katanya defensif, suaranya rendah. Aku memandanginya persis di matanya, menahan keinginan untuk menonjok mukanya. Aku menunggu siapa yang bakal pertama menoleh atau mundur.

Biru yang akhirnya melakukannya. Ia memejamkan matanya, bersandar kembali di kursinya, menghembuskan napas panjang dan berkata, “Sori—aku.. aku tidak bermaksud bertengkar denganmu,”

Aku menarik napas dan menyadari betapa konyol percakapan kita tadi. Kamu sungguh kekanak-  kanakan.. Aku menelan ludah dan berkata, “Aku juga salah, sori. Aku hanya.. sedikit tertekan dengan beberapa masalah. Aku tidak seharusnya melampiaskannya seperti itu.” Aku menggigit bibirku, merasa malu.

Biru menghela napas panjang dan membuka HP-nya, membuka sesuatu dan menunjukkannya kepadaku. Sebuah video, ia tidak memainkannya, tetapi dari thumbnailnya aku bisa melihat seorang cewek cantik yang tersenyum, sedang duduk di depan tembok dengan balon – balon ditempel di belakangnya.

“Itu yang kutonton tadi.”
“Kukira itu privat? Kamu tidak perlu menjelaskannya kepadaku—“ kataku buru – buru.
“Tidak, aku.. aku mau menjelaskannya sedikit.” Ia berkata, menghela napas panjang dan tampak kesulitan mencari kata – kata yang tepat. “Kamu berkata kamu melakukan perjalanan ini untuk mencari solusi untuk masalahmu. Aku berkata itu aneh tapi aku sebenarnya melakukan hal yang sama. Ia—ia suka mengajakku travelling dulu, tetapi aku tidak pernah benar – benar menyediakan waktu untuk pergi dengannya.”

Biru menarik kembali HP-nya, memandangi cewek di layarnya. “Aku rasa aku sedang mencari semacam penebusan dengan menemani orang – orang lain travelling sekarang. Aku tidak mau travelling, tetap tidak suka, sebenarnya. Dan terasa aneh jika aku pergi tanpanya. Tapi..” Biru berhenti, menekan layar HP-nya yang meredup. Ia diam untuk beberapa waktu, hanya memandangi cewek itu. Lalu ia menutup aplikasi videonya dan berkata, “Entahlah. Aku rasa akulah yang lebih aneh jadi apa yang kukatakan kepadamu hanyalah aku yang frustrasi dengan diriku sendiri.”

Ia menoleh kepadaku yang tesenyum kecil kepadanya. Ia membalas senyumanku untuk pertama kalinya.

“Jadi.. Juliette hanyalah nama panggilan pacarmu?” tanyanya, mengganti topik. Aku mengeluarkan tawa canggung yang pelan, “Yeah, um, sedikit memalukan sebenarnya. Aku mendownload Partner Finder ketika aku masih bersama dengannya. Dan kita memiliki panggilan bodoh ‘Romeo’ dan ‘Juliette’—“ Biru mendengus, “Hei! Aku tahu, sedikit menjijkkan, tapi kita berdua masih muda dan sangat tergila – gila satu dengan yang lain—dan kita bertemu di kelas sastra, jadi..”

Aku mengangkat bahu, tertawa kecil, “Yeah, aku sama sekali lupa bahwa itu usernameku ketika memutuskan menggunakan aplikasinya kemarin.”

“Mungkin kamu harus menggantinya dengan Rosaline, ia jatuh cinta dengan Romeo juga tetapi tidak berakhir dengan Romeo. On the bright side, dia tidak ikut – ikutan seluruh acara bunuh diri itu.” Aku tertawa.

“Hei, kamu lumayan mengerti sastra juga! Sayangnya kamu agak melenceng.. Romeo yang jatuh cinta dengan Rosaline sebelum melihat Juliette. Rosaline ingin hidup sebagai seorang biarawati.”

“Oh. Apakah kamu sudah memikirkan hidup membiara, kalau begitu?”

Aku terbahak. Pasangan wanita dan pria di serong kita menoleh ke kita lagi. Kita kembali memandangi mereka hingga mereka menoleh ke depan. Aku melonggokkan kepalaku sedikit dan menyadari kursi – kursi depan berwarna oranye, yang mulai merayap ke belakang.

Biru membuka jendela di sebelahnya dan kita disambut dengan pemandangan indah dari matahari terbenam dan lautan yang terbentang jauh. Biru mengubah seluruh posisi duduknya, benar – benar menghadap ke arah jendela. Aku melonggokkan kepalaku agar bisa melihat dengan lebih jelas. Memerhatikan awan – awan yang menahan malam agar tidak sepenuhnya meluber. Aku mengerling ke Biru. Matanya yang fokus dan rahangnya yang terbentuk dengan jelas, seakan – akan ia sedang menggertakkan giginya di dalam mulutnya.

“Menurutmu kita bisa seperti itu?” tanyaku, masih memandanginya.

Dia menunduk ke arahku, “Apa?”

“Menurutmu kita bisa seperti itu? Membiarkan sesuatu yang tidak sepenuhnya kita tahu untuk melewati dan mengganti kita setenang matahari itu?”

Dia tidak menjawab. Kita memandangi langit semakin gelap dan akhirnya dia berkata,
“Aku tidak tahu. Tapi kurasa jika kita tidak bisa, kita bisa selalu mencoba lagi keesokan harinya.”

Aku tersenyum.

Bersamaan dengan semakin jauh matahari dari jendela, terdengar pengumuman untuk memasang kembali sabuk pengaman. Kita akan mendarat.

Aku rasa aku mengalami semacam disorientasi setelah kita benar – benar mendarat. Gerakan cepat semua orang untuk mengambil tas mereka dari kompartmen dan berdiri mengebas – ngebaskan baju mereka. Aku berdiri dan ditawari sebuah permen karet lagi oleh Biru yang kuambil tetapi kumasukkan ke dalam kantongku. Kita buru – buru keluar sebelum didului antrian di belakang kita.

Kita turun dari pesawat, berjalan di lorong – lorong airport yang membingungkan dan entah bagaimana berhasil melewati imigrasi bersama. Kita menemukan tempat pengambilan koper dan Biru mengangkat koperku dan bersama – sama kita mengantri untuk sebuah taxi.

Sepanjang itu, aku berusaha memikirkan kata – kata yang tepat. Tetapi ketika kita sudah hampir di antrian paling depan, aku menyadari aku tidak memiliki kata – kata apapun. Jadi aku menoleh kepadanya, menarik jaketnya pelan. Kali ini aku tidak melepasnya, merasakan tekstur kainnya dengan baik – baik. “Aku mau berterima kasih karena kamu sudah mengantarku.” Kataku, mukaku merah padam dan aku tidak berani memandanginya langsung di matanya. “Kamu yakin tidak mau ikut denganku? Kamu sudah jauh – jauh ke sini..”

“Tidak,” katanya. Aku memberanikan diri mendongak ke arahnya. Ia tersenyum, agak sedih, “Aku masih belum bisa. Tapi,” dan di sini kita maju sedikit dan sekarang kita di antrian paling depan.

“Aku sangat, sangat, sangat, senang bahwa kamu memutuskan membuka app itu kemarin dan aku mengambilnya.”

Aku tersenyum, “Aku juga. Dan aku senang kamulah yang mengambil requestku.”

Ada sebuah taxi di seberang kita, mengklakson. Kita  mengerling kepada taxi itu. Si sopir mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku menarik napas panjang. “Well,” Biru mengulurkan tangannya, “Have a good life, Juliette.”

Aku memandangi tangannya, lalu kepadanya, lalu aku memeluknya. Ia kaku sebentar, lalu memelukku balik. “You deserve to be happy,” gumamku pelan, ke dalam jaketnya. Ia mengeluarkan dengusan halus, “You too.”

Aku melepaskan pelukanku dan menemukan air mataku membasahi pipiku. Aku menghapus mereka dengan lengan jaketku, tertawa sedikit dan menarik koperku. Lalu aku tersenyum kepadanya untuk terakhir kalinya, dan pergi ke taxi itu. Aku menaikinya, menutup pintunya dan sopirnya mulai menyetir menjauh, aku memandanginya dari jendelaku. Perlahan – lahan mengecil. Ia melambaikan tangan dan aku melambai balik, sebelum taxiku membelok dan ia hilang dari pandanganku.

Aku membalikkan badanku dan menarik napas dalam, menyadari betapa sendirinya aku sekarang. Air mataku masih mengalir dan aku berusaha menghapusnya, mencari tissue dari kantongku ketika aku menemukan sesuatu. Aku mengeluarkannya.

Permen karet.

Aku tertawa kecil, membuka bungkusnya dan mengunyahnya. Memikirkan rasa stroberi, seorang lelaki bernama Biru, sebuah perjalanan dadakan ke Yunani dan sebuah petualangan baru di dalam hidupku.


#AyoBerkarya #BerkaryaDenganHati

You may also like

2 Comments