60 Tahun ASTRA: Tumbuh sebagai Pohon yang Rindang

ASTRA (4)

Jumat, 15 November 2017

Saya adalah seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Surabaya, yang sedang menjalani Studi Ekskursi Nasional di Jakarta. ASTRA Internasional menjadi tujuan akhir dalam perjalanan studi saya. Sedikit curhat tentang yang saya rasakan dalam kunjungan tersebut ialah, bahwa kedatangan rombongan saya disambut dengan baik. Ketika sampai, kami disambut oleh Bapak Wisnu Wijaya, Head of External Relations Department Corporate Communication.

Salah satu hal yang menjadi titik penting di catatan saya dalam kunjungan tersebut ialah 4 nilai Catur Dharma yang dijelaskan oleh Pak Wisnu. Hal tersebut sekaligus menjadi rangkuman atas tujuan dan pencapaian yang dilakukan oleh ASTRA. Jelas sekali, bahwa penjelasan Pak Wisnu mengenai ASTRA memberikan saya gambaran baru yang lebih luas mengenai ASTRA itu sendiri. Pengetahuan baru yang saya dapat ialah rupanya ASTRA telah berjalan dalam 7 segmen usaha:

  • otomotif,
  • keuangan,
  • alat berat, pertambangan & energi,
  • agribisnis,
  • infrastruktur, logistik dan lainnya,
  • teknologi informasi,
  • dan properti.

Nama-nama seperti Permata Bank, FIF Group, serta KOMATSU yang tidak asing bagi saya rupanya berada dibawah naungan ASTRA Internasional.

Namun semua pencapaian dan keberhasilan tersebut terjawab,  bahwa semuanya itu tidak terjadi dalam satu tarikan napas. Dalam kunjungan saya ke Museum Astra, semua berawal pada tahun 1957 ketika Bapak William Soeryadjaya dan Tjia Kian Tie memulai usaha perusahaan dagang dengan prinsip ‘PALUGADA’.

PALUGADA? – pertanyaan saya seketika terjawab oleh pemandu kami, – “Apa lu mau gua ada“. Jawaban tersebut seketika membuat saya tertawa kecil. Sekaligus juga berefleksi bahwa semua berawal dari cita-cita. Siapa yang akan menyangka bahwa prinsip sederhana tersebut membawa ASTRA kepada keberhasilannya saat ini dengan 7 segmen usaha? Saya yakin dibenak para pendiri pun tidak ada pikiran tersebut, yang ada hanya harapan.

ASTRA: Tumbuh sebagai Pohon yang Rindang

Sebuah harapan yang begitu mulia ketika harapan para pendiri ASTRA ialah ‘sebagai pohon yang rindang, agar masyarakat Indonesia bisa memetik buahnya‘. Memulai usaha, bukan dengan ambisi pribadi melainkan untuk kesejahteraan bangsa. Itu bukan hal yang kecil, mengingat bahwa Bangsa Indonesia adalah sungguh besar dan luas. Saya rasa, hal itu bisa saya terapkan bagi cita-cita saya nanti, untuk tidak menjadi kepentingan dan kepuasan pribadi saya, melainkan juga bagi orang lain.

Perjalanan ASTRA menjadi sebuah perusahaan besar tidak sampai di sana saja. Cita-cita besar para pendiri menghantarkan ASTRA menjadi pelopor distributor kendaraan seperti Toyota dan Honda pada tahun 1969 dan 1970. Hingga seperti yang ditampilkan dalam Museum, ASTRA menghasilkan mobil Kijang seri pertama Toyota dengan warna kuning pada 1977 yang dirakit di Indonesia.

Yang bisa saya lihat dari kunjungan saya ke museum ialah ASTRA sebagai perusahaan yang berbeda dari perusahaan lainnya. Dengan nilai Catur Dharma yang menjadi dasar bisnisnya, ASTRA tetap kembali kepada harapan para pendiri sebagai ‘pohon yang rindang’.

Tentunya banyak bentuk kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan ASTRA, terbukti dalam 9 yayasan yang berdiri melakukan program masing-masing mulai lingkungan hidup, kesehatan, kewirausahaan hingga pendidikan. Saya bisa melihat, mendengar kisah yang dibagikan oleh Pak Wisnu mengenai kegiatan CSR yang dilakukan. Termasuk penjelasan dan gambaran dalam bentuk visual mengenai program CSR yang ditampilkan di Museum ASTRA. Mungkin secara langsung saya tidak mengalami, namun yang terpenting bagi saya ialah 60 tahun perjalanan ASTRA menjadi sebuah perusahaan besar ini dimulai dari sebuah harapan mulia. Harapan untuk  bertumbuh menjadi naungan dan tempat ‘berteduh’ anak bangsa.

Inspirasi ASTRA, bagi saya.

Bagi saya secara pribadi, kunjungan ini menjadi satu inspirasi bahwa memang sesuatu yang besar dimulai dari hal yang kecil. Sebuah keberhasilan tidak ditempuh dalam waktu yang singkat. Perjalanan panjang dan kesulitan tentu akan mewarnai sebuah pencapaian, dan harapan mulia sebagai pembawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Untuk itu sebagai generasi penerus bangsa yang bisa saya lakukan ialah membuat sebuah komitmen akan cita-cita saya ke depannya. Bahwa apapun yang akan saya capai nanti adalah bukan bagi kepentingan saya pribadi, melainkan juga bagi kebaikan orang lain, paling tidak berdampak bagi orang-orang disekitar saya.

Berikut beberapa foto-foto dalam kunjungan yang saya lakukan:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *